Kediri Lombok Barat, 8 Maret 2026 — Program Studi Pendidikan Agama Islam (Prodi PAI) turut berpartisipasi dalam Daurah Al-Qur’an yang diselenggarakan di Al-Mukhlisin Qur’anic College (AQC), Kediri, Lombok Barat. Kegiatan ini menghadirkan Syaikh Dr. Abdullah Mohammad Hilmy Al-Mishri, ulama dan pakar kajian Al-Qur’an, untuk mengkaji keluasan makna dan kandungan Al-Qur’an.
Keikutsertaan Prodi PAI dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi keislaman dan kependidikan, khususnya dalam memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam. Hal ini relevan dengan peran Prodi PAI dalam menyiapkan calon pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan pedagogik, tetapi juga memiliki wawasan keislaman dan keteladanan akhlak.
Dalam kegiatan tersebut, salah seorang pendamping berkesempatan menerjemahkan uraian Syaikh Dr. Abdullah Mohammad Hilmy Al-Mishri kepada para peserta. Kesempatan ini memberikan pengalaman keilmuan yang berharga dalam memahami perspektif dan kedalaman kajian Al-Qur’an yang disampaikan secara langsung oleh seorang ulama.
Menggali Kandungan Surah Al-Fatihah
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah kajian tentang Surah Al-Fatihah. Meskipun hanya terdiri atas tujuh ayat, surah tersebut memiliki kandungan yang luas, mencakup aspek tauhid, ibadah, petunjuk, dan hubungan manusia dengan Allah.
Kajian tersebut menegaskan pentingnya mempelajari Al-Qur’an tidak hanya melalui hafalan, tetapi juga melalui pemahaman dan tadabbur. Bagi Prodi PAI, pendekatan ini menjadi penting dalam membangun kompetensi calon pendidik agar mampu mengajarkan Pendidikan Agama Islam secara lebih bermakna dan kontekstual.

Dari Hafalan Menuju Pengamalan
Syaikh Dr. Abdullah Mohammad Hilmy Al-Mishri juga menekankan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada hafalan. Para penghafal Al-Qur’an perlu memahami makna, mentadabburi kandungannya, dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan pendidikan Islam. Seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai materi keagamaan, tetapi juga harus mampu menjadi teladan dalam sikap dan perilaku.
Karena itu, penguatan kompetensi Al-Qur’an di lingkungan Prodi PAI diarahkan tidak hanya pada aspek pengetahuan dan hafalan, tetapi juga pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an.
Memperkuat Tradisi Keilmuan PAI
Daurah Al-Qur’an di AQC menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, pendidikan, dan pembinaan keislaman. Kegiatan semacam ini memberikan kontribusi terhadap penguatan tradisi keilmuan Prodi PAI sekaligus memperluas wawasan sivitas akademika dalam memahami Al-Qur’an dan relevansinya dengan pendidikan.
Melalui kegiatan keilmuan yang bersentuhan langsung dengan khazanah Al-Qur’an, Prodi PAI terus mendorong lahirnya calon pendidik yang kompeten, berintegritas, berakhlak, dan mampu mentransformasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam proses pendidikan.
Daurah tersebut menjadi pengingat bahwa bersama Al-Qur’an, proses belajar tidak pernah berhenti. Hafalan membutuhkan pemahaman, pemahaman membutuhkan penghayatan, dan penghayatan harus diwujudkan dalam pengamalan.
